Solusi Satu Negara (One-State Solution): 'Israel'

Oleh: Dzikrullah W. Pramudya

Inilah yang sedang dipaksakan berlangsung sejak Mei 1948. Ini memang solusi dari dan untuk gerakan Zionisme internasional, tetapi polusi untuk dunia internasional. Polusi keadilan, polusi kemanusiaan, polusi hukum, polusi adab diplomasi, polusi militer dan lain-lain. Secara resmi 'Israel' menyebut dirinya the Jewish State. Negara Yahudi. Istilah ini pertama kali disiarkan secara internasional oleh Theodore Herzl sebagai judul bukunya 'A Jewish State" terbit 1896 di Leipzig dan Vienna.

Bahkan Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman pada bulan Mei 1946 telah menyetujui pendirian sebuah "Negara Yahudi", dua tahun sebelum gerakan Zionisme mengumumkannya pada 14 Mei 1948 (silakan periksa dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Office of the Historian, Departemen Luar Negeri AS). Lalu pada tahun 1992 legislasi parlemen Zionis 'Israel' menetapkan istilah "Jewish and Democratic State" sebagai sebutan bagi 'Israel'.

Semua kepala negara yang pernah memimpin Indonesia mengutuk keberadaan negara 'Israel' ini dengan tidak mengakuinya secara hukum internasional, dan dengan tidak membuka hubungan diplomatik dengan perampok itu.

Sudah tentu 'Israel' bekerja keras dalam jangka panjang untuk mengambil hati Indonesia. Kita tidak tahu isi pertemuan-pertemuan rahasia baik di Tel Aviv, Singapura, ataupun Washington, DC, atau di mana pun antara pejabat dan tokoh Indonesia dengan para pelobi Zionis. Akan tetapi, kita tahu buahnya.

Salah satu buahnya, Februari 2000, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla mengeluarkan surat membuka hubungan dagang dengan 'Israel'. Surat itu dikuatkan lagi oleh Surat Keputusan Menperindag No. 23/MPP/01/2001 tertanggal 10 Januari 2001 yang ditandatangani oleh Menperindag Luhut Binsar Pandjaitan.

Surat inilah yang melegalkan perusahaan ekspedisi Zionis seperti Zim Shipping keluar masuk pelabuhan peti kemas Tanjung Priok dengan tenang.

Padahal sejak Oktober 2014, Zim Shipping sudah tidak berani masuk pelabuhan Oakland, Amerika Serikat, karena selama berminggu-minggu ratusan relawan pembela Palestina menghadang di dermaga dengan gerakan boikot.

Ini mengingatkan kita pada gerakan pemuda-pemuda Mesir tahun 1945 sampai 1950 yang beberapa kali menghadang dan merusak kapal-kapal Belanda yang lewat Terusan Suez. Para pemuda Muslimin Mesir itu melakukan aksi solidaritas kepada Republik Indonesia yang baru merdeka (peristiwa ini direkam oleh buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" karya M. Zein Hassan, 1980).

Orang Indonesia sekarang belum ada yang melakukan aksi seperti pemuda Mesir. Lumayan lah, sudah mulai ada bicaranya.

Sumber: Buku Emas Baitul Maqdis Vol. 1

Posting Komentar untuk "Solusi Satu Negara (One-State Solution): 'Israel'"